Rabu, 21 November 2012

Askep Hipertensi


TINJAUAN TEORITIS


A.    Konsep Dasar
1.      Pengertian
Hipertensi Heart Failure adalah suatu keadaan patologi berupa kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah. Untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau ada disertai peninggian volume diastol secara abnormal. (Arif Mansjoer, 1999 : 434).
Hipertensi Heart Failure atau payah jantung adalah kondisi dimana jantung tidak mampu memompakan darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Karena jantung mempunyai dua pompa yaitu pompa kiri dan pompa kanan maka payah jantung juga dapat terjadi pada jantung kiri atau jantung kanan atau bisa kedua-duanya (Silvia A. Prince, Patofisiologi Bulan I dan II, 1998, EGC.  Jakarta).
Gagal jantung adalah sindroma yang terjadi bila jantung tidak mampu memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan metabolik dan oksigen dalam jaringan (Lynda Juall Carpenito, Edisi 2. 1999 : 68).
Kesimpulan Hipertensi Heart Failur menurut penulis yaitu suatu kelainan fungsi jantung yang dapat terjadi pada jantung kiri dan kanan, tidak dapat memompakan darah secara adekuat sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan metabolik dan O2 ke jaringan.
2.      Anatomi Fisiologi
Jantung terletak di dalam rongga mediastinum, yaitu diantara kedua paru-paru dan agak condong ke sisi kiri (pada orang dewasa). Bagian dasar terbentang setinggi Intercosta ke-2 lebih kurang 3 cm dari sternum dan bagian puncak (apex) nya berada setinggi Intercosta 5/6 kiri, jantung merupakan suatu organ kecil dengan berat sekitar 250-300 gram yang dibungkus oleh selaput tipis elastis yang disebut perikardium. Perikardium terdiri dari 2 lapis yang lapisan sebelah dalam disebut perikardium visceral yang mempunyai hubungan langsung dengan permukaan jantung dan lapisan sebelah luar disebut perikardium parietal yang bagian depannya menempel pada tulang belakang, serta bagian bawahnya menempel pada diagfragma. Diantara kedua lapisan perikardium terdapat sedikit cairan yang berfungsi sebagai lubrikasi yaitu mengurangi gesekan-gesekan yang disebabkan oleh gerakan memompa dari jantung itu sendiri
Jantung mempunyai 4 ruang yaitu atrium kiri dan kanan, serta ventrikel kiri dan kanan. Antara rongga kiri dan kanan dipisahkan oleh septum, septum atrial adalah bagian yang memisahkan antara atrium kiri dan kanan sedangkan septum ventrikel adalah bagian yang memisahkan ventrikel kiri dan kanan.
Rongga atrium dan ventrikel dibatasi oleh katup yang disebut atrio ventrikuler. Katup trikuspidalis adalah katup atrio ventrikuler yang membatasi atrium kanan dan ventrikel kanan. Sedangkan katup mitralis adalah katup atrio ventrikuler yang membatasi atrium kiri dan ventrikel kiri.
Diantara ventrikel dan pembuluh darah besar yang keluar dari jantung juga dibatasi oleh katup yang disebut semilunar. Katup semilunar pulmonalis adalah katup yang membatasi katup ventrikel kanan dan arteri pulmonalis. Katup semilunar aorta adalah katup yang membatasi ventrikel kiri dan aorta.
Bunyi jantung dibentuk dari 3 faktor yaitu :
a.       Faktor otot yaitu kontraktilitas otot jantung : Pada saat jantung kontraksi akan menghasilkan sejumlah bunyi
b.      Faktor katup yaitu menutupnya katup, membukanya katup tidak menghasilkan bunyi karena terjadi secara pasif : Pada fase sistole akan terjadi penutupan katup antrioventrikuler dan vase diastole akan terjadi penutupan katup semilinar.
c.       Faktor pembuluh darah yaitu terbulensi pembuluh darah.
Gambar 2.1
Sirkulasi Jantung






3.      Patofisologi
Bila cadangan jantung normal untuk berespon terhadap stress tidak adequat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, jantung gagal untuk melakukan tugasnya sebagai pompa dan akibatnya gagal jantung, juga pada tingkat awal. Disfungsi komponen pompa secara nyata dapat mengakibatkan kegagalan, karena kondisi dimana jantung gagal untuk mengeluarkan isinya secara adequat (Arif mansjoer, 1999).
4.      Manifesitasi Klinik
Berdasarkan bagian jantung yang mengalami kegagalan pemompaan, gagal jantung terbagi atas gagal jantung kiri dan gagal jantung kanan, gejala dan tanda yang timbul pun berbeda (Capita Selekta Edisi II 1999 :434).
Diagnosis gagal jantung terbagi antara jantung kiri dan kanan :
a.       Gagal jantung kanan (kriteria mayor) : Dispnea, peningkatan tekanan vena jugularis, Ronchi basah tidak nyaring, kardiomegali, edema paru akut.
b.      Kriteria minor : Edema pergelangan kaki, batuk malam hari, hepatomegali, efusi pleura, kapasitas vital berkurang menjadi 1/3 maksimum, tachikardi > 120x/menit
5.      Manajemen Medik Secara Umum
Menurut Arif  Mansjoer (1999,435)
Pengobatan atur penatalaksanaan untuk individu dengan penyakit jantung terutama pada payah jantung memerlukan waktu yang lama itu tergantung dari individu atau penderita adapun penatalaksanaannya seperti :
a.       Meningkatkan oksigenisasi dengan pemberian oksigen dan menurunkan kosumsi O2 melalui istirahat atau pembatasan aktivitas.
b.      Memperbaiki kontruktilitas otot jantung
1)      Mengatasi keadaan yang revisible, termasuk tritoksikosis dan arituria.
2)      Digitalis
a)      Dosis Digitalis
v  Digoksin oral untuk digitalis cepat 0,5-2 mg dalam dosis selama 24 jam, dan dilanjutkan 2 x 0,5 mg selama 2-4 hari.
v  Digoksin IV 0,75-1 mg dalam 4 dosis – 24 jam
v  Cadicanid IV 1,2 – 1,6 mg dalam 24 jam
b)      Dosis penenang gagal jantung : Digoksin 0,5-2 mg sehari, untuk pasien usia lanjut dan gagal jantung dosis disesuaikan.
c)      Dosis penunjang dogoksin untuk fibrilasi atrium 0,25 mg
3)      Menurunkan beban jantung
Menurunkan beban awal dengan diet rendah garam, diuretik dan vasodilator.
a)      Diet rendah garam
Pada gagal jantung dengan kelas IV, penggunaan deuretik digoksin dan penghambat Angiotensin converting Enzyme (ACE) diperlukan mengingat usia. Untuk gagal jantung kelas II dan III diberikan : Diuretik dalam dosis rendah atau menengah (furosemid 40-80 mg), digoksin pada pasien fibrilasi atrium maupun kelainan irama sinus, digoksin pada pasien fibrilasi atrium maupun kelainan irama sinus, penghambat ACE (captotocral mulai dari dosis 2x6,55 mg atau setara dengan penghambat ACE yang lain seperti ISDN dengan dosis dimulai 3x10-15 mg.
b)      Diuretik
Yang digunakan furosemid 0-80 mg, dosis penunjang rata-rata 20 mg. Diuretik yang lain yang digunakan antara lain hidroklorotiazid, klortalidon, tramterin, amiloroid dan asam etakrinat.
c)      Vasodilator
v  Nitrogliserin 0, - 0,6 mg subligual atau 0,2 - 2 ukuran kg  BB/menit IV
v  Natroposid 0,5 - 1 ug/kg/BB/menit IV.
v  Prazonin peroral 2 - 5 mg
v  Penghambat ACE : Captopril 2 x 6,5 mg
v  Dosis ISDN adalah 10-0 mg peroral atau 5-15 mg sublingual setiap 4-6 jam
v  Keadaan atau kontradiksi penggunaan digitalis berupa brodikardi, gangguan irama dan konduksi jantung blok AV derajat II dan III, serta gejala lain ditemui pada intosikossi digitalis adalah anoreksia mual muntah, diare dan gangguan penglihatan.
v  Kontradiksi relatif : Penyakit kardiopulmonal infark miokard akut (hanya diberi peroral). Idiopatik hypertropich, stenosis, gagal jantung (dosis obat lebih rendah) miokarditis berat, hipokalemia, penyakit paru obstruksi kronik, dan pnyertaanobat yang menghambat konduksi jantung.

B.     Konsep Dasar Keperawatan
Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperwatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu problem salving atau pendekatan yang memelukan ilmu, teknik, dan keterampilan interpersonal dan ditentukan untuk memenuhi kebutuhan klien atau keluarga. Proses terdiri dari lima tahap dan berhubungan : Pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Tahap tersebut berintegrasi terhadap fungsi intelektual problem salving dalam mendefinikasi suatu tindakan keperawatan (Nursalam : 2001 ; 1).
1.      Pengkajian
Pengkajian adalah tahap dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien. (Ner et al 1996, Dikutip dari Nursalam, 2001 : 17).
a.       Pengumpulan Data
Yaitu mengumpulkan informasi yang sistematis tentang klien. Data dikumpulkan dari klien, keluarga, orang terdekat, masyarakat, grafik, rekam medis, hasil pemeriksaan diagnostik, perawat lain dan kepustakaan (Nursalam : 2001 : 2-25).
1)      Biodata
Terdiri dari nama, usia, jenis kelamin, tempat tinggal, data-data lain seperti suku, agama dan pekerjaan.
2)      Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang mengakaji mengapa klien meminta bantuan selain itu untuk menggali keluhan utama dari klien. Riwayat kesehatan masa lalu penting dikaji untuk mengetahui apakah klien pernah sebelumnya menderita penyakit Hipertensi Heart Failure” (Barbara C. Long. 1996 ; 35).

Riwayat kesehatan keluarga untuk mengetahui apakah dikeluarga ada yang mempunyai penyakit Hipertensi Heart Failure atau penyakit jantung lainnya. Hal ini penting karena riwayat kesehatan keluarga menunjukan apakah ada dalam keluarga yang mempunyai penyakit yang sama.
3)      Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi secara menyeluruh tapi difokuskan pada sistem jantungnya. Pada penderita Hipertensi Heart Failure ditemukan : Peningkatan vena jugularis, ronchi basah tidak nyaring,  dispneanokrurial paroksimal dan ortopnea, batuk pada malam hari, kardiomegali, edema pada pergelangan kaki, irama derap pada S3, takikardia. (Arif Mansjoer, 1999 ; 434-435)
4)      Data biologis yang perlu dikaji pada penderita Hipertensi Heart failure menurut (Marylin E. Doenges, 1999 ; 240).
a)      Pola nutrisi pada penderita Hipertensi Heart Failure terganggu yang ditandai dengan kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan, anoreksia.
b)      Pola eliminasi, BAB dab BAK
c)      Pola istirahat dan tidur, Klien bisa tidur karena adanya batuk dan sesak napas pada malam hari.
d)     Pola aktifitas : Adanya kelelahan umum dan kelemahan serta kelelahan otot.
5)      Data Psikologis
Pada penderita Hipertensi Heart failure adanya faktor stress yang lama, kebiasan pola hidup yang jelek, aktifitas yang berlebihan, ansietas dan faktor dai lingkungan sosial. (Marylin E. Doenges : 1999 ;241).
6)      Data Sosial
Menurut Marylin E. Doenges : 1999 ; 241 pada penderita Hipertensi Heart Failure adanya perasaan yang isolasi atau penolakan karena penyakit serta perubahan pola biasa dalam tanggung jawab dan perubahan kapasitas fisik untuk melakukan peran.
7)      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan seperti pemeriksaan foto torax dapat mengarah ke cardio megali, corakan vaskular paru menggambarkan kranialisasi, infiltrat perikardial kedua paru, dan efusi paru. Fungsi EKG untuk melihat penyakit yang mendasari seperti infark miokard dan aritmia. Pemeriksaan lain seperti HB, eletrolit, ekokardiografi, angiografi, fungsi ginjal dan fungsi tiroid dilakukan atas dindikasi (Arif Mansjoer 1999 ; 435).
8)      Therapy
Menurut Arif Mansjoer : 1999 ; 43, 435. Obat yang digunakan dalam pengobatan penyakit Hipertensi Heart Failure :
a)      Digoksin oral                     0,5 mg
b)      Digoksin Injeksi                0,75-1 mg IV
c)      Cedilanid Injeksi               1,2-1,6 MG
d)     ISDN                                10-40 mg
e)      Nitrogliserin                      0,4-0,6 mg
f)       Nitroprusid                        0,5 ug/kg BB/menit IV
g)      Prazosin (Kaptropil)          2x6,5 mg


b.      Analisa data
Menurut Drs. Nasrul Effendy 1995 : 24, Analisa data adalah kemampuan mengaitkan data tersebut dengan konsep teori dan prinsip yang relavan untuk membuat kesimpulan dalam menetukan masalah kesehatan dan keperawatan klien.
c.       Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawatan secara akontabilitas dapat mengidentifikasikan dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi mencegah dan merubahnya (Lynda J. carpenito 2000 Dikutip dari Nursalam, 2001 : 35).
Diagnosa yang mungkin timbul pada penderita Hipertensi Heart failure (Menurut Lynda J. carpenito. 2000 : 68).
1)      Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan insufisiensi oksigen untuk aktifitas kehidupan sehari-hari.
2)      Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan dispnea nokturnal dan ketidakmampuan melakukan posisi tidur yang biasa.
3)      Perubahan perfusi jaringan perifer yang berhubungan dengan kongesti vena sekuner terhadap gagal jantung sebelah kanan.
4)      Ansietas yang berhubungan dengan sulit bernapas
5)      Resiko tinggi inefektif pelaksanaan regimen terapeutik yang berhubungan dengan kurang informasi tentang diet rendah garam, terapi obat (Duiretuk, digitalis, vasodilator).
2.      Perencanaan
Adalah pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, atau mengoreksi masalah-masalah yang diidentifikasikan dari diagnosa keperawatan. (Lyer, Taptica, dan Bernochi-Loser, 1996, Dikutip dari Nursalam 2001 ;51).
Perencanaan tindakan yang dilakukan oleh penderita Hipertensi Heart failure adalah sebagai berikut :
a.       Penurunan cardiac output berhubungan dengan pengubahan kontraktifilitas mio kardio, perubahan frekuensi irama dan konduksi listrik.
Tujuan :
1)      Klien menunjukan tanda vital dalam batas yang dapat diterima (disritnya terkontrol atau hilang) dan bebas gejala gagal jantung misalnya parameter hemodinamik dalam batas normal pengeluaran urine adekuat.







Tabel 2.1
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1
2
3
1
Catat bunyi jantung
S1 dan S2 mungkin lemah karena menurunnya kerja pompa irama galok umum (S3 dan S4) dihasilkan sebagai aliran darah ke dalam serambi yang distensi. Murmur dapat menunjukan incompetensi atau stenotis katup.

2
Pantau tekanan darah
Pada gagal jantung dini sedang atau kronis tekanan darah meningkat sehubungan dengan SVR dan HCF lanjut tubuh tidak mampu mengkonfensasi dan hipotensi tak normal lagi.

3
Auskultasi nadi avikal, kaji frekuensi, irama jantung (dokumentasikan disrit mai bila tersedia disrit metri).
Biasanya taki kardi (meskipun pada saat istirahat) untuk mengkompensasi penuranan kontraktilitas Pentikuler KAP, PAT, MAT, PEC dan AF distritnya umum berkenaan dengan gagal jantung meskipun yang lainnya terjadi.
Catatan :
Distrinya pentikuler yang tidak respontif terhadap obat diduga anurisma pentikuler

4
Berikan oksigen pada tambah dengan kanula nassal atau masker sesuai indikasi.

Meningkatkan kesediaan oksigen untuk kebutuhan miokar untuk melawan efek hifoxia.
5
Berikan obat sesuai indikasi diuretik, vasodilator sesuai dengan program pengobatan
Banyak obat yang dapat digunakan untuk meningkatkan volume sekuncup, memperbaiki kontratilitas dan penurunan konesti.

2)      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen atau kebutuhan dan kelemahan pada umumnya (imobilisasi).
a)      Klien dapat mencapai peningkatan toleransi aktifitas yang dapat diukur dibuktikan oleh menurunnya kelemahan dan kelelahan dan tanda vital DBN selama aktifitas.
b)      Klien berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan, memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri.
Tabel 2.2
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1
2
3
1
Periksa tanda–tanda vital sebelum dan segera setelah aktifitas, khususnya bila pasien menggunakan vasodilator dieurotik, penyekat beta.

Hipotensi otoskatik dapat terjadi dengan katifitas karena efek obat (vasodilasi), perpindahan cairan (dierurotik) atau pengaruh fungsi jantung.

2
Kaji presivitator atau penyebab kelemahan contoh : pengobatan nyeri, dan otot.
Pada gagal jantung dini sedang atau kronis tekanan darah meningkat sehubungan dengan SVR dan HCF lanjut tubuh tidak mampu mengkonfensasi dan hipotensi tak normal lagi.

3
Evaluasi peningkatan intoleran aktifitas.
Dapat menunjukan peningkatan dekompensasi jantung daripada kelebihan aktifitas.

4
Berikan bantuan dalam aktifitas perawatan diri sesuai indikasi dan selingi periode aktifitas dengan periode istirahat
Pemenuhan perawatab diri pasien tampak mempengaruhi miokard atau kebutuhan oksigen atau berlebihan


3)      Kurangnya pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan atau pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemahaman atau kesalahan persepsi tentang hubungan fungsi jantung atau penyakit.
Tujuannya : Menyatakan pemahaman proses penyakit, melakukan perubahan pola hidup untuk memperbaiki kesehatan, mengidentifikasi gejala yang memerlukan evaluasi, menggambarkan rencana untuk menerima perawatan kesehatan adekuat.
Tabel 2.3
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1
2
3
1
Kaji kemampuan pasien untuk belajar
Belajar tergantung pada emosi dan kesehatan fisik dan tindakan pada individu

2
Identifikasi gejala yang harus dilakukan oleh perawat.
Dapat menunjukan kemampuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjutan.

3
Berikan instruksi dan informasi tertulis khusus pada pasien untuk rujukan contoh jadwal obat
Informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah informasi.
4)      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan menurunnya filtrasi glomerolus (penurunan curah jantung) atau meningkat produksi ADH dan retensi natrium.
Tujuannya :
Klien dapat mendemonstrasikan volume cairan stabil dengan keseimbangan masukan dan pengeluaran, bunyi nafas bersih atau jelas, tanda vital dalam rentang yang dapat diterima, berat badan stabil dan tidak ada oedema.
Tabel 2.4
NO
INTERVENSI
RASIONAL
1
2
3
1
Pantau haluaran rine, catat jumlah dan warna saat hari dimana diuresis terjadi.
Haluaran urine mungkin sedikit dan pekat (khususnya dalam sehari) karena penurunan perkusi ginjal. Posisi terlentang membantu diuresis sehingga haluaran urine dapat ditingkatkan pada malam atau selama tirah baring.

2
Pantau atau hitung keseimbangan pemasukan dan pengeluaran selama 24 jam

Therapy diureutik dapat disebabkan oleh kehilangan cairan tiba-tiba atau berlebihan (hipovolemia) meskipun oedema asites masih ada.
3
Pertahankan duduk atau tirah baring dengan posisi semi fowler selama masa akut.

Posisi terlentang meningkatkan piltrasi ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diureusis.
4
Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai dengan indikasi misalnya diureutikcontoh furosemid (lasik) bumetanidin (bumex).
Meningkatkan laju aliran urine dan dapat menghambat reasorbpsi, natrium atau klorida pada tubus ginjal.

3.      Implementasi
Tahap implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dan renacana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Drs. Nasrul Effendy, 1995 : 40).
Tahap implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan.
4.      Evaluasi
(Menurut Drs. Nasrul Effendy, 1995 ; 40). Tahap evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan rencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah diterapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan dan melibatkan pasien dan tenaga kesehatan lainnya.
5.      Catatan Perkembangan
Menurut Drs. Nasrul Effendy, 1995 ; 42. catatan perkembangan adalah merupakan bagian catatan klien yang berisi : Hasil pemeriksaan, pengkajian, pesan dokter, ahli terapi yang terlibat. Semua catatan yang berisi data dan topik masalah dengan informasi yang dicatat dalam format SOAP :
Keterangan :
S       :  Subjektif adalah informasi yang didapatdari pasien
O      :  Objektif adalah informasi yang didapatkan berdasarkan pengamatan
A      :  Aseesment (Pengkajian) adalah analisa dari masalah pasien
P       :  Planing of action adalah rencana tindakan yang akan diambil
I        :  Implementasi adalah pelaksanaan tidnakan yang telah direncanakan
E      :  Evaluasi adalah menilai hasil dari keseluruhan yang telah dilaksanakan.
R      :  Reassement adalah mengkaji ulang tindakan apabila muncul masalah baru.

1 komentar: